-
Rasio dan Nurani: Catatan Kritis Polisi Cendekia
Rp145.500Penulis:
Eko Rudi Sudarto, Bagas Dwi Akbar, Ridho Aldwiko, Masdar Auzan, Arif Budi Aji, Junia Rakhma Putri, Yudha Dwi Anggara, Ivan Pradipta Mahadika, Satrio Bagaskara Gunadi Putra, Ojesa Wileta Panggabean, Wisnu Imam Tyasha, Muhammad Calvin Ramadhan, Nadya Thamariskha, Abeg Guna Utama, Mahafidz Sultan, Nesia Leony Prameswari Hartono, Ananda Praditya Sudding, Arthur G.M. Siagian, Dicky Fariz Rahmad Alhafizh, Dwi Rizki Febriana, Maharrani Setyadevi H., Nanda Ajeng Agustiningsih, Nur Nisfi, Rere Cika Ihza Pamesti, Stefanus Rionaldo Kurniawan, Fajar Hayyi Noviyanti, Fitri Mattika, Jonathan Lammarganda Pangidoan Nababan, Kevin Egananta Joshua, Lenina Olin, Wigrha Mustika Rahmah, Alkuba Ariftu Arbianto, Andry Risky Ulfa, Aria Tanjung, Firman Abit Prasetya, Gede Adhi Arya Wiryanatha, Gregorius Michael Patria Tama, Mahendra Tri Octavianus, Muaz Primadyantara, Muhammad Nufi, Mukti Prabawa, Raden Mas Kresnha Wibowo, Raden Muhammad Titan Firmansyah Putra, Rainhard Allbright Tangyong, Toman Febriandi Sibuea, Riski Tiar Novita Sari, Hadyan Hawari.
Editor:
Sukarman Dj. Soemarno
Sinopsis:
Integrasi antara rasio (logika ilmiah) dan nurani (etika dan kemanusiaan) merupakan fondasi utama dalam membangun profesionalisme Polri yang presisi, berintegritas, dan dekat dengan masyarakat. Untuk itu, personel Polri harus memiliki kesadaran kritis, rasionaitas, dan keberanian intelektual dalam memahami tugas kepolisian yang pada gilirannya mampu merespons tantangan institusi Polri.
Buku ini menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan metode ilmiah merupakan dasar dalam memahami realitas sosial dan permasalahan hukum. Pemikiran Rocky Gerung yang menjadi inspirasi utama menyoroti pentingnya “kuriositas” atau sikap ingin tahu yang mendorong proses penalaran kritis, termasuk keberanian untuk meragukan, menguji, dan memverifikasi kebenaran melalui pendekatan ilmiah. Dalam konteks kepolisian, pendekatan ini menuntut aparat untuk tidak hanya mengandalkan prosedur teknis, tetapi juga mengembangkan kemampuan analitis, reflektif, dan argumentatif dalam mengambil keputusan.
Buku ini menawarkan gagasan transformasi pendidikan dan kelembagaan Polri melalui penguatan metode ilmiah, logika berpikir, dan landasan etis-hukum. Model pemikiran seperti “triadik metodologis” (metodologis, logis, dan etis) menjadi kerangka penting dalam membangun polisi yang profesional, objektif, dan berorientasi pada perlindungan hak asasi manusia. Dengan demikian, buku ini diharapkan menjadi kontribusi akademik sekaligus inspirasi bagi reformasi Polri menuju institusi yang lebih modern, humanis, dan dipercaya publik.
-
-
Setapak Perubahan: Pemurnian Kembali Institusi Polri Layaknya Emas 24 Karat
Rp175.000Penulis: Jenderal (Pol) Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si
Institusi Polri sepanjang tahun 2022 didera oleh badai ujian yang membuat kepercayaan masyarakat terhadap Polri merosot drastis, dari sebelumnya di atas 80 persen menjadi 54 persen per Agustus 2022. Hal ini menyusul terjadinya sejumlah kasus yang terjadi hampir bersamaan dan begitu menyita perhatian publik hingga sementara waktu. Bahkan Presiden Joko Widodo dalam arahannya menyebutkan sebagian problem itu dengan terbuka, mulai dari pungli, kesewenang-wenangan, mencari –cari kesalahan, gaya hidup mewah, hingga kurangnya komunikasi publik.
Dengan mengutp istilah Tiongkok yang menyebut krisis sebagai bahaya dan peluang, Pimpinan Polri melihat krisis yang terjadi pada Polri tahun 2022 itu sebagai sebuah kesempatan untuk menjadikan institusi Polri menjadi lebih baik dan dipercaya. Ibaratnya krisis berfungsi sebagai ayakan yang bisa memisahkan batu dan emas murni. Langkah dan kebijakan untuk menjadi lebih baik lagi adalah dengan menyelesaikan kasus tersebut secara profesional dan proporsional, termasuk tiga besar kasus, yakni peristiwa penembakan di Duren Tiga, Tragedi Kanjuruhan, dan peredaran narkoba yang diduga diotaki oleh Kapolda Sumbar. Selanjutnya, melakukan peningkatan standar layanan kepolisian dengan lebih keras lagi. Polri menyadari tidak ada cara instan untuk kembali meraih kepercayaan masyarakat selain juga kepercayaan itu harus dijaga dan dipertahankan.
-
-
Transformasi Polri: Narasi Menuju Realita
Rp210.000Penulis:
Eko Rudi Sudarto, Airlangga M A, Arif Budi Aji, Bagas Dwi Akbar, Dwita Pratama, Elga Elite Raga Satria, Masdar Auzan, M. Iqbal Herian, Ridho Aldwiko, Habib Hakanul, Ilham Gesta Rahman, Muhammad Hadi, Ojesa Wileta Panggabean, Rizky Revin Pradana, Pasha Aditya Nugraha, Sakti Ferdinand, Wisnu Imam Tasya, Achmad Nizar Akbar, Bayu Aji Prabowo, Dimas Arbianto Ardinur, Dixko Romadi Alfansyah Subing, Fauzan Maulana Harianto, Kadek Dian Srirahayu, Made Galih Artawiguna, Nadya Thamariska, Abid Naufal Zakiy, Arie Rahman Kurniawan, Bastiandhira, Chandra Aulia Putra, Elfike Reputri, Franto Akcheryan M, Imam Ansyari Rambe, Puspa Mayangsari, Adrian Vico Januar, Anggi Wahyu Romadhoni, Dia Wara Bimantara, Fahrul Sabri Sulthan, Maharrani Setyadevi H, Nur Nisfi Ardiansari, Rere Cika Ihza Pamesti, Yofan Pratama B, Ananda Mustika Adya, Dwi Kurnia Ardiyanto Nugroho, Faisal Khauf A, Fauziatul Adfina, Jonathan L.P Nababan, Muhammad Kasim Lating, I Gusti Ngurah Utama, Nadya Puti Lenggo G., Anditsma Toriko A., Indry Sampelan, Janiar Arsyaddillah Lintang, Kris Novi Handiyani, Listra Kogoya, Mukti Prabawa, Naufalsyauqi Muhammad, Panji Wisnu Pamungkas, Agustinus Ronald Tri Cahya Waine, Alifi Nur Ikhsan, Deka Oktaria Pertiwi, Hadyan Hawari, Muaz Primadyantara, Satria Ramadhani K. H, Surya Dwi Aji Gemilang, Tommy Subardi Putra, Deny Halim Syahputra, Firman Anit Prasetya, Florentinus Jati Pranowo Tegu, Gregorius Michael Patria Tama, I Made Wisma Rahma S, Muhammad Nufi, Nofiana Rahmy, Gede Adhi Arya Wiryanatha.
Editor:
Sukarman Dj. Soemarno
Sinopsis:
Salah satu dimensi yang mendapat sorotan dari gagasan transformai Polri adalah adanya kesenjangan antara retorika atas narasi reformasi dan realitas di lapangan yang pada giliannya berdampak pada menurunnya kepercayaan publik terhadap Polri. Hal ini telah memancing perhatian mendalam dari para pemangku kepentingan Polri, mulai dari pimpinan Polri, akademisi, aktivis HAM, hingga mahasiswa, seraya mendiskusikan mengenai ketegasan arah transformasi Polri tersebut.
Buku ini menjadi refleksi akademik atas pertanyaan mendasar: apakah transformasi Polri telah berjalan nyata atau masih sebatas wacana. Disadari bahwa transformasi Polri tidak cukup dilakukan melalui perubahan administratif, melainkan harus menyentuh aspek moral, sosial, dan kultural. Polri diposisikan bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pilar peradaban yang berperan dalam menjaga keseimbangan sosial dan melindungi masyarakat.
Dengan demikian, harus ada perubahan mendasar dalam semua aspek itu agar mampu menjawab ekspektasi publik lewat pelaksanaanyang konsisten dan terukur dalam bentuk pelayanan yang adil, profesional, dan humanis.









